Pesona Kawah Ijen Blue Fire

Menelusuri Kawah Ijen, Pesona Blue Fire yang Hanya Ada Dua di Dunia

  • Lokasi Kawah Ijen: Berbatasan dengan wilayah Bondowoso, Kloban dan Banyuwangi.
  • Harga Tiket: Rp. 10.000 untuk turis domestik dan Rp. 200.000 untuk turis asing.
  • Harga sewa jeep: Sekitar Rp. 600.000 – Rp. 750.000 (sewa jeep bisa dari hotel tempat kita menginap di Banyuwangi)
  • Jam buka: Pukul 01.00 – 14.00. Biasanya setelah pukul 14.00 rute pendakian ditutup dengan alasan keamanan dan keselamatan.

Pendakian ke Kawah Ijen yang Tak Sia-sia

Pendakian Ke Kawah Ijen Yang Tak Sia Sia
@theweekdaytraveler

Kawah Ijen terletak di Pegunungan ljen. Kawah ini terletak di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso. Kawah ljen terkenal dengan keunikan dan keindahannya. Ada sebuah kaldera yang berwarna hijau tosca dan kebiru-biruan di puncak pegunungan ljen. Kaldera itulah yang diberi nama Kawah Ijen.

Pemandangannya yang indah membuat banyak turis dari mancanegara berbondong-bondong untuk menyaksikan keindahannya. Untuk mencapai Kawah ljen, kamu harus mendaki sekitar 1,5 jam di pegunungan ljen yang tingginya sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut. Pos Paltuding merupakan titik awal pendakian ke Kawah Ijen.

Kawah Ijen terkenal sebagai kawah yang paling asam di dunia. Kawah ini memiliki kedalaman sekitar 200 meter dan suhu kawah bisa mencapai 200 derajat celcius. Kawah ini kaya akan bahan-bahan tambang dan mineral seperti belerang. Oleh sebab itu, banyak penambang belerang yang mencari mata pencaharian di Kawah ljen.

Selain unik dan indah, di Kawah ijen sering terjadi fenomena alam blue fire atau api biru. Biasanya fenomena blue fire muncul di tengah-tengah penambangan sulfur pada pukul 02.00 sampai 03.00 dini hari. Bagi pendaki yang hendak menyaksikan blue fire, harus mulai mendaki sekitar pukul 01.00 dini hari. Fenomena alam blue fire di dunia hanya ada di dua tempat, yakni di Kawah ljen atau di Islandia.

Titik Pendakian ke Kawah Ijen

Titik Pendakian Ke Kawah Ijen
@pecandukabut

Untuk mendaki ke Kawah Ijen, pengunjung bisa memulai dari Banyuwangi atau Bondowoso. Rute dari Banyuwangi dimulai dari daerah Licin – Jambu – Paltuding. Rute dari Bondowoso jaraknya lebih jauh dibandingkan dari Banyuwangi. Bila dari Bondowoso, rute pendakian dimulai dari Wonosari – Sempol – Paltuding.

Walaupun lebih jauh, rute dari Bondowoso jalannya lebih mulus dan tidak terlalu berliku liku.

Kami memulai pendakian ke Kawah Ijen dari Banyuwangi. Sebelum berangkat ke Kawah Ijen, kami transit di salah satu hotel di Banyuwangi, dekat Pelabuhan Ketapang. Sore hari ketika tiba di hotel, sudah ada puluhan turis mancanegara berkumpul di lobi untuk check in. Menurut informasi dari petugas hotel, mereka juga ingin mendaki Kawah ijen.

Saya kira ini hanya kebetulan saja, bila di hotel tempat saya transit banyak turis mancanegara yang akan mendaki ke Kawah ljen. Namun, begitu tiba di area pendakian pada hari itu, saya lebih sering bertemu turis mancanegara daripada turis lokal. Kawah Ijen memang tak hanya unik dan indah, tapi juga sangat eksotis di mata turis mancanegara.

Pukul 03.00 dini hari kami dijemput oleh pengemudi jeep untuk memulai pendakian ke Kawah Ijen. Mobil jeep ke Kawah Ijen bisa disewa dari hotel dengan tarif sekitar Rp. 700.000 per jeep. Kamii tiba di Pos Paltuding sekitar pukul 04.00 dini hari. Kemudian kami membeli tiket untuk ke Kawah Ijen. Pendakian dimulai dari Pos Paltuding dan mobil jeep diparkir tak jauh dari Pos an. Pukul 04.00 dini hari masih gelap sehingga kami merasa perlu membawa senter untuk ke puncak Ijen.

Mendaki Kawah Ijen yang Menantang

Mendaki Kawah Ijen Yang Menantang
@shiikzky

Perjalanan mendaki Kawah Ijen cukup terjal dan curam. Ada banyak pasir di sepanjang jalan ke Kawah Ijen. Jalan berpasir yang kami lalui cukup licin. Kira-kira 1 jam pertama, jalan terus menanjak dengan kemiringan sekitar 25 – 35 derajat.

Tak jarang saya hampir merosot ke belakang karena pasir licin di sepanjang jalan. Sekitar 1 jam jalan kaki di tempat yang terjal dan menanjak ternyata cukup sulit. Rasa lelah dan bosan mulai muncul dan membuat saya kesal. Bahkan, saya sempat berpikir untuk tidak meneruskan perjalanan menuju ke kawah.

Menjelang pukul 05.00 pagi, fajar mulai menyingsing. Medan pendakian mulai terang. Ketika matahari makin tinggi, tampak bukit-bukit indah dan misterius mengelilingi pegunungan Ijen yang asri. Pemandangan indah di sekitar medan pendakian cukup menghibur hati saya yang sudah mulai kesal karena harus terus-menerus mendaki jalan yang terjal, curam dan licin.

Sesekali saya berhenti untuk berfoto dan menikmati pemandangan indah tersebut. Ketika jalan semakin menanjak ke atas, kami mulai bertemu dengan beberapa penambang belerang yang hendak menambang belerang. Mereka menarik sebuah gerobak untuk meletakkan hasil tambang yang akan mereka jual.

Saya cukup takjub dengan para penambang belerang yang tangguh di Kawah Ijen. Saya saja yang hanya membawa tas ransel unyu-unyu sudah hampir menyerah, tapi mereka dengan sabar dan tabah terus menarik gerobak di medan yang terjal dan curam.

Setelah satu jam lebih terus-menerus menempuh perjalanan yang curam dan menanjak, kami tiba di Pondok Bunder. Ada sebuah plang besar di pohon yang bertuliskan “Selamat, Anda sampai di Pondok Bunder 2214 mdpl“. Saya kegirangan dan mengira Kawah Ijen sudah sangat dekat. Tapi ternyata saya harus meneruskan perjalanan menanjak sekitar dua kilometer lagi menuju Kawah Ijen.

Saat itu, banyak pendaki yang istirahat dan duduk duduk di Pondok Bunder. Beberapa di antara mereka ada yang sudah selesai mendaki, beberapa orang lagi memang berhenti sejenak sebelum meneruskan perjalanan. Sebenarnya saya juga tergoda untuk berhenti lama di Pondok Bunder. Tapi akhirnya saya bulatkan tekad untuk terus lanjut ke atas.

Panorama Kawah Ijen Blue Fire

Panorama Kawah Ijen Blue Fire
@danielkordan

Rasa penasaran dan tak ingin menyia-nyiakan waktu. membuat saya berusaha melawan rasa enggan dan malas. Padahal bangku-bangku di Pondok Bunder sangat menggoda saya untuk menghentikan perjalanan. Perjalanan dari Pondok Bunder menuju ke kawah memakan waktu sekitar 30 menit bila berjalan santai. Bila bisa berjalan lebih cepat, sekitar 15 – 20 menit kita sudah bisa sampai ke bibir kawah.

Ternyata, usaha dan pendakian saya ke Kawah Ijen memang tidak sia-sia. Setelah sampai di bibir kawah, pemandangan kawah yang berwarna hijau tosca dan kebiru biruan sangat unik dan mengesankan. Lahar panas membuat bibir kawah menghasilkan kepulan asap berwarna putih seperti kapas. Semakin siang, biasanya asap tersebut semakin tebal, berlatarkan pemandangan kawah yang berwarna hijau tosca.

Di bibir kawah tersebut, kita akan menyaksikan para penambang belerang mulai turun ke bawah dan kembali lagi ke atas sambil memikul belerang yang berwarna kuning. Berat muatan belerang yang dipikul para penambang sekitar 70 – 90 kilogram. Tentu saja ini bukan muatan yang ringan untuk dibawa pulang sambil menuruni Pegunungan Ijen yang berpasir licin.

Para Penambang Belerang di Kawah Ijen

Para Penambang Belerang Di Kawah Ijen
@irimages

Selain pemandangannya yang sangat mengesankan, Kawah Ijen menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi para penambang belerang. Mereka rela menempuh perjalanan berkilo-kilo meter yang curam dan menanjak serta memikul muatan belerang saat pulang dari Kawah Ijen.

Sejak pukul 03.00 sampai 04.00 dini hari, mereka sudah harus bangun dan berburu belerang di Kawah Ijen. Uang yang mereka dapatkan dari menambang belerang tidak terlalu banyak. Harga 1 kilogram belerang tak lebih dari Rp1.000. Biasanya hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari hari.

Tempat penambangan belerang ada di dasar kawah. Lokasinya sejajar dengan kawah. Jadi, dari bibir kawah para penambang tersebut harus melalui jalan setapak dan turun ke dasar kawah yang ber-uap panas dan berbau belerang. Asap putih sangat pekat dan tebal dari dasar kawah.

Para penambang Belerang harus memakai masker atau kain untuk menutupi indra penciumannya karena bau belerang sangat menyengat dan lama-kelamaan mengganggu pernapasan.

Di dasar kawah ada pipa besi yang dihubungkan dengan sumber belerang. Dari pipa besi tersebut keluar cairan fumarol yang kental dan berwarna merah menyala seperti darah. Cairan fumarol tersebut sangat mudah mengeras ketika terkena angin dan udara dingin.

Ketika sudah mengeras, cairan fumarol tersebut membentuk belerang padat yang berwarna kuning terang. Belerang yang sudah padat mengeras menyerupai batu. Batu belerang yang sudah padat dipotong-potong menjadi bongkahan-bongkahan yang lebih kecil. Kemudian batu-batu belerang tersebut dipikul dengan keranjang oleh para penambang untuk ditimbang dan kemudian dibawa pulang untuk dijual.

Tips ke Kawah Ijen

Tips Ke Kawah Ijen
@krisdiandro
  • Lebih baik berangkat dini hari, sebelum pukul 04.00. Biasanya, semakin siang, asap yang mengepul dari kawah semakin tebal sehingga pemandangan kurang maksimal. Titik keberangkatan bisa dari Banyuwangi atau Bondowoso.
  • Kalau mau ke Kawah Ijen dari Banyuwangi bisa naik kereta api dari Surabaya. Naik kereta api biasanya jauh lebih lancar dan terhindar dari kemacetan. Beberapa rute kereta api Surabaya (Stasiun Gubeng) ke Banyuwangi (Stasiun Banyuwangi Baru) adalah Sri Tanjung 194 kelas ekonomi. Harga tiket sekitar Rp. 100.000 dengan jadwal pukul 14.30 dari Surabaya dan tiba di Banyuwangi pukul 21.15. Jadwal lainnya dengan Kereta Mutiara Timur Siang 87 kelas eksekutif harga tiket Rp. 170.000 dengan jadwal keberangkatan pukul 09.00 dan tiba di Banyuwangi pukul 15.30. Dari Banyuwangi bisa sewa jeep ke Kawah ljen.
  • Kalau mau dari Bondowoso juga bisa. Naik bus umum dari Terminal Bungurasih di Surabaya ke Terminal Bondowoso. Perjalanan sekitar 6 jam. Tarif bus AC ke Bondowoso sekitar Rp. 48.000. Dari Bondowoso dilanjutkan naik jeep ke Kawah Ijen,
  • Disarankan bawa senter saat mendaki ke Kawah Ijen. Jalan terjal dan curam lebih jelas terlihat bila diterangi senter saat dini hari.
  • Sebaiknya pakai sepatu datar yang nyaman dan tertutup. Tidak disarankan memakai sandal jepit dan high heels.
  • Lebih baik mengisi perut terlebih dahulu sebelum mendaki, tapi jangan terlalu kenyang. Perut jangan terlalu kosong atau terlalu penuh.
  • Jangan lupa bawa masker. Bau belerang cukup menusuk hidung saat dekat kawah.
  • Udara cukup dingin, apalagi menjelang dini hari. Sebaiknya bawa perlengkapan seperti sarung tangan, syal, sweter, jaket, kaus kaki, dan topi yang terbuat dari bahan wol.

Tinggalkan komentar